Home Lifestyle Mengenal Kampung Batik GIRILOYO

Mengenal Kampung Batik GIRILOYO

6 min read
0
0
212

Kami sudah berada di mobil jemputan menuju Desa Wisata Wukirsari, Kabupaten Bantul setelah sebelumnya tiga desa wisata di Gunungkidul selesai kami eksplor. Pak Nur Ahmadi yang menemani perjalanan kami mengatakan waktu tempuhnya cukup untuk dipakai istirahat, namun kami lebih memilih menikmati perjalanan dengan mengobrol meski sebenarnya lumayan mengantuk setelah sebelumnya kami harus bangun pagi buta untuk mengejar sunrise di Kampung Pitu. Kamipun memasuki daerah Imogiri. Beberapa obyek wisata favorite seperti Puncak Becici, Hutan Pinus Mangunan, Kebun Buah Mangunan, dll kami lewati. Tak lama, sampailah kami di tujuan, Kampung Batik Giriloyo.

Kampung Batik Giriloyo terletak di Jl. Imogiri Timur km 14, Gazebo Wisata Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, DIY. Kampung Giriloyo sendiri merupakan sentra batik tulis terbesar di tenggara Jogjakarta yang terdiri dari tiga dusun, yakni Dusun Karang Kulon, Giriloyo, dan Cengkehan. Ratusan masyarakat yang terbagi atas 12 kelompok batik di kampung ini memiliki kemampuan membatik secara turun temurun. Konon, seni kerajinan batik tulis Giriloyo ini sudah ada sejak awal abad 17. Kami kemudian di arahkan ke satu gazebo dimana ada beberapa ibu-ibu tengah sibuk dengan kain putih, canting, dan lilinnya. Batik Giriloyo sendiri lebih banyak menggunakan motif khas Mataraman (Jogja – Solo). Sementara kain yang banyak digunakan merupakan kain katun berjenis primisima yang dikenal kualitas katun terbaik. Untuk membatik satu lembar kain dibutuhkan waktu minimal 1 bulan, tergantung dengan bahan kain yang digunakan, kerumitan motif, dll. Katanya, yang paling sulit adalah membatik di atas kain sutra.

Yang awalnya hanya melihat dan mengamati saja akhirnya kami di persilahkan untuk mencoba. Beberapa diantara kami pun sangat antusias mencobanya. Secarik kain kecil ukuran sapu tangan yang sudah digambar pola mulai mereka batik menggunakan canting. Tak sepandai ibu-ibu di sana memang. Diantara mereka, Mba Dwi terlihat lebih lancar menorehkan lilin pada kainnya untuk ukuran pemula. Sementara yang lain? boleh lah ya…

Selesai membatik, kami kemudian ke bagian pewarnaan. Nah, yang membuat batik Giriloyo ini berbeda adalah penggunaan pewarna alami untuk batiknya, meski tak semuanya. Pewarna sintetis juga terkadang digunakan untuk beberapa kebutuhan. Pewarna alami yang digunakan berasal dari kulit kayu, daun jati, secang, kunyit, dan bahan alami lainnya. Bahan alami ini memiliki kelebihan yakni akan lebih awet, meski warnanya tidak secerah pewarna sintetis. Sangat cocok dengan motif kontemporer yang banyak diangkat oleh batik Giriloyo ini. Bagusnya, limbah air bekas pewarnaan batik di sini sudah dikelola dengan baik dengan cara mengalirkannya ke dalam bak sehingga tidak mencemari lingkungan.

Kain kemudian dimasukkan dalam air pewarna. Kain dicelup sambil digosok perlahan agar pewarna dapat masuk ke seluruh bagian kain. Selanjutnya, kain yang sudah berwarna kemudian dimasukkan dalam air mendidih untuk melunturkan lilin yang menempel. Proses ini dinamakan nglorot. Setelah lapisan lilin hilang dan meleleh, kain kemudian dicuci/dibilas, dan dijemur. Nah, untuk mendapatkan beberapa warna dalam satu kain, proses diulang dari awal. Pantas saja jika butuh waktu lama untuk menghasilkan satu lembar kain batik saja. Bahkan tak jarang butuh waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan satu kain batik terbaik.

Setelah melihat proses pewarnaan kami kemudian ke show room untuk melihat berbagai koleksi kain batik. Beragam motif dan warna bisa kita jumpai di sini, dan tentunya bisa kita beli. Harganya mulai dari 300 ribuan hingga jutaan rupiah. Selain itu kita juga dapat menemukan batik yang sudah berbentuk pakaian jadi. Mulai dari motif parang, mega mendung, babon ngendog, dan masih banyak lagi. Untuk pemasaran, Kampung Batik Giriloyo ini tak hanya menjualnya di show room nya saja, namun juga ke berbagai daerah dan via online. Sebelum kami meninggalkan Kampung Batik Giriloyo beberapa teman diberikan kain batik hasil karya mereka yang sudah di warnai. Yah, jadi nyesel deh tidak ikutan mencoba membatik.

Kampung Batik Giriloyo ini tak sekedar destinasi wisata biasa, namun juga tempat belajar mengenal lebih dekat kekayaan warisan nenek moyang. Jangan sampai negara lain lebih mengenal kekayaan warisan negara kita dibanding kita sendiri. Jadi, kapan belajar dan mengenal batik lebih dekat di Kampung Batik Giriloyo?

Load More Related Articles
Load More By Informasi Seputar Bantul
Load More In Lifestyle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *